Front Mahasiswa Nasional Ranting UI Gelar Diskusi Lingkar Menuju Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2017

118
BERBAGI
Front Mahasiswa Nasional Ranting UI Gelar Diskusi Lingkar Menuju Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2017

Front Mahasiswa Nasional Ranting UI saat diskusi lingkar menuju peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2017

Jakarta, 22/09/17 – Bertempat di Coffe Toffe Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional (HTN) 2017, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Ranting Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi lingkar yang bertajuk “ Membedah Reforma Agraria Palsu Rezim Jokowi-JK dan Perjuangan Kaum Tani Jurang Koak melawan TNGR “.

Diskusi yang dimulai pukul 16.00 WIB dan dihadiri oleh sekitar 20 orang perserta ini berjalan menarik dengan dipandu oleh Sheila Rahmi Juwita ketua FMN Ranting UI sebagai moderator. Diskusi ini sendiri diisi oleh Rahmat Ajiguna, Ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) bersama Widianto Satria Nugroho dari Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional sebagai Narasumber.

Widianto Satria presentasinya menyampaikan kondisi terkini yang sedang dialami oleh kaum tani Jurang Koak, NTB yang masih hidup dibawah intimidasi dan terror dari aparat gabungan.

“ Hingga kemarin sudah ada enam orang kaum tani Jurang Koak yang ditangkap karena mempertahankan ha katas tanahnya, dan hingga saat ini seluruh kaum Tani Jurang Koak masih saja terus mengalami berbagai terror dan Intimidasi” tandas Widi.

Selain itu Widi juga menyampaikan betapa pentingnya pemuda mahasiswa untuk terus berjuang bersama sector rakyat lainnya terutama kaum tani dengan berbagai cara, mulai melakukan diskusi-diskusi ilmiah, kampanye permasalahan rakyat di dalam kampus hingga melakukan aksi massa.

Sementara itu Rahmat Ajiguna menyampaikan dengan gamblang bahwa kondisi penghidupan kaum tani hari ini yang semakin sulit ditengah situasi krisis dan akibat berbagai skema dan kebijakan rezim Jokowi-JK yang menghisap dan tidak berpihak pada kaum tani. Mulai dari reforma agraria palsu Jokowi-Jk yang pada hakikatnya hanyalah proses sertifikasi tanah-tanah terlantar hingga skema bank tanah yang hanya akan semakin menyengsarakan kaum tani.

Program Reforma Agraria Palsu Jokowi ini beserta program perhutanan sosialnya (RAPS), pada hakekatnya akan terus melestarikan monopoli dan perampasan tanah yang bahkan semakin terbuka dan legal. Tidak ada syarat apapun program RA ini untuk bisa membebaskan kaum tani dari monopoli, baik monopoli tanah, monopoli sarana produksi pertanian berupa alat kerja, bibit, pupuk, obat-obatan serta nput lainnya. Demikian pula dengan Output komoditas pertanian yang seketika jatuh tiada harga karena tidak adanya perlindungan harga dari Negera, diperparah lagi dengan banjirnya impor produk pertanian yang menguasai pasar hingga pasar-pasar tradisional di Indonesia, jelas Rahmat.

Dalam peringatan HTN 2017 kali ini, AGRA akan mengkoordinasikan aksi serentak secara Nasional pada tanggal 25 dengan seruan dan sikap yang sama “Menolak Reforma Agraria palsu dan Perhutanan Sosial Jokowi”. Kita ingin menegaskan kepada pemerintah dan menunjukkan kepada masyarakat luas Indonesia bahwa kaum tani dan rakyat luas pedesaan menolak program RA palsunya, betapapun Jokowi terus berupaya menutupinya dengan berbagai ilusi dan cerita sukses sosialisasinya, tambahnya.

Kami mengajak kepada seluruh Rakyat untuk memberikan dukungannya dan ambil bagian dalam aksi dan kampanye tersebut, sekaligus sebagai upaya untuk memperkuat persatuan rakyat dan memajukan solidaritas antar rakyat tertindas, seru Rahmat.

Setelah pemaparan dari pemateri diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari peserta yang hadir, Bimo anggota FMN Ranting UI yang juga merupakan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, menanyakan bagaimana sebenarnya kondisi konkret yang dialami oleh kaum tani hari ini.

Rahmat Ajiguna menjelaskan dengan gamblang bagaimana kaum tani yang terus berjuang melawan perampasan tanah, ditengah tidak adanya jaminan akan harga sarana pertanian yang terjangkau dan jaminan akan harga jual hasil pertanian yang layak, sehingga tidak mengherankan banyak kaum tani yang terlilit hutang dalam jumlah yang besar bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Diskus ini sendiri diakhiri dengan pembagian flyer seruan aksi hari tani nasional yang akan dilaksankan pada hari Senin 25 September 2017 mendatang.

 

Dilaporkan oleh: Hans Bosco (FMN UI)