GSBI PT. KFN Bekasi Gelar Diskusi Untuk Menyongsong Hari Tani Nasional (HTN) 2017

101
BERBAGI
GSBI PT. KFN Bekasi memberikan dukungan terhadap perjuangan AGRA Dan Kaum Tani Jurang Koak untuk terus memperjuangkan haknya yang sedang dirampas Oleh TNGR

Bekasi, 19/09/17,- GSBI Bekasi-PT. KFN menyelenggarakan diskusi dengan Alinasi Gerakan Reforma Agaria (AGRA) terkait makna Hari Tani dan perjuangan kaum tani melawan perampasan tanah serta pentingnya keterlibatan kaum buruh dalam perjuangan kaum tani.

Supri (Pimpinan GSBI PT. KFN Bekasi) menerangkan bahwa diskusi ini diselenggarakan sebagai rangkaian menyongsong peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2017, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran anggota GSBI PT.KFN serta kaum buruh secara luas hubungan mendasar pesoalan perampasan dan monopoli tanah dengan persoalan umum kaum buruh. Lebih jauh lagi, diskusi ini untuk memperkuat hubungan dan aliansi dasar klas buruh dan kaum tani, serta untuk memajukan solidaritas antar rakyat tertindas.

Diskusi ini dihadiri sekitar 30 orang anggota GSBI PT.KFN Bekasi, dengan menghadirkan Rachmad Ajiguna, Ketua Umum Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) sebagai pembicara.

Dalam diskusinya, Rachmad menjelaskan arti penting dari Hari Tani Nasional sebagai momentum bersejarah bagi perjuangan kaum tani dalam mewujudkan Reforma Agraria sejati. Lahirnya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) No. 5 pada tanggal 24 September 1960, yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Tani Nasional juga merupakan kemenangan dan capaian politik dari perjuangan kaum tani Indonesia dalam menghapus belenggu Feodalisme di Indonesia, serta perjuangan dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, berdaulat dan merdeka.

Rachmad memaparkan situasi objektif kaum tani saat ini yang masih dihadapkan dengan perampasan dan monopoli tanah, monopoli sarana produksi, dan kekerasan hingga kriminalisasi oleh aparatur negara. Perampasan dan monopoli tanah mengakibatkan kaum tani kehilangan sumber utama penghidupannya. Kemerosotan ekonomi dan penghidupan menyebabkan kaum tani terpaksa bermigrasi ke kota menjadi cadangan buruh murah atau siap diperdagangkan ke luar negeri menjadi buruh migran yang bahkan tanpa perlindungan. Dengan demikian, perampasan tanah merupakan pijakan bagi Kapitalisme Monopoli untuk mengeruk sumber daya alam dan melakukan kontrol atas produksi.

Rezim Jokowi yang memproritaskan pembangunan infrastruktur dan investasi asing, serta menerbitkan 15 paket kebijakan semakin memperlihatkan bahwasannya Rezim Jokowi menyokong dominasi Imperialisme di Indonesia. Investasi dan pembangunan infrastruktur yang tak terbendungkan menjadi faktor utama meningkatnya angka perampasan dan monopoli tanah di Indonesia. Ganasnya perampasan serta monopoli tanah oleh negara dan Imperialisme tentunya semakin memperbesar penindasan dan penghisapan terhadap klas buruh dan kaum tani.

Rachmad juga mengkaitkan keadaan kaum tani Indonesia dengan program Reforma Agraria palsu Jokowi. Rachmad menegaskan bahwasannya program RA Jokowi justru berorientasi untuk memperluas pasar tanah (land market) dan kredit perbankan. Dalam jangka panjang, program ini semakin membuka peluang perampasan tanah karena sertifikasi hanya akan memudahkan praktik jual-beli tanah yang menguntungkan tuan tanah dan perbankan yang menyita aset kaum tani. Akibatnya kaum tani juga terlilit hutang.

Rachmad juga menjelaskan pada tanggal 16 September 2017, terjadi pengusiran dan tindakan kekerasan serta kriminalisasi yang dilakukan oleh Operasi Gabungan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terhadap Petani Jurang Koak, Desa Bebidas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini semakin membuktikan kepalsuan dari Program RA-PS Jokowi yang dimana merupakan skema licik dalam merampas dan memonopoli tanah petaniā€

Pada kesimpulannya, Rachmad menegaskan bahwa persoalan upah buruh murah serta berbagai skema pemotongan upah dan hak asar buruh lainnya tidak terlepas dari persoalan perampasan dan monopoli tanah, sehingga perjuangan klas buruh dan kaum tani merupakan satu kesatuan perjuangan yang utuh dan tiak bisa dipisahkan, khususnya dalam perjuangan mewujukan Reforma Agraria Sejati dan Inustrialisasi Nasional

Peserta diskusi sangat antusias mengikuti jalannya diskusi dan sesi tanya jawab. Usai diskusi, GSBI PT. KFN Bekasi foto bersama untuk memberikan solidaritas pada Petani Jurang Koak yang berjuang melawan upaya pengusiran oleh TNGR. GSBI PT. KFN Bekasi juga berkomitmen melakukan penggalangan dana untuk perjuangan Petani Jurang Koak.