Mengahdapi Ancaman Penggusuran POLDA, Warga Kapuk Poglar Berhenti Aktifitas Harian

146
BERBAGI

Jakarta, 8 Februari 2018. Rencananya Kepolisian Daerah Metro Jaya (POLDA) akan melakukan penggusuran terhadap warga Kapuk Poglar pada hari ini 8/2/18. warga mengetahui rencana penggusuran dari Spanduk yang dipasang oleh POLDA Metro Jaya yang berisikan himbauan “Bagi warga yang masih tinggal dilokasi, harap segera mengosongkan area ini sebelum dilakukanya eksekusi pada tanggal 8 Februari 2018.

Hari ini ratusan warga Rt. 07/04 Kapuk Poglar berhenti berkatifitas, tidak terkeculai dengan anak-anak banyak diantaranya tidak sekolah, mereka memilih bersama keluarga mempersiapkan diri untuk menghadapi rencana penggusuran paksa oleh polda. anak-anak berbaris layaknya demonstran, begitu juga dangan para perempuan berbaris rapi menutup jalan menuju lokasi, Terdapat juga panggung yang didirikan untuk tempat orasi-orasi politik serta penampilan budaya, dan dikabarkan akan nantinya akan ada taria One Bilion Rising (OBR) sebuah dens/tarian universal sebagai kampanye untuk kedilan dan kesetaran perempuan.

Tidak saja warga kapuk Poglar yang menolak penggusuran, berbagai organisasi rakyat telah menyatakan sikapnya untuk mendukung perjuangan warga kapuk Poglar, setidaknya ada dua aliansi organisasi yang meberikan dukungan terhadap perjuangan warga untuk menolak penggusuran, yakni dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) dan Aliansi Pemuda Mahasiswa Indonesia (APMI). hari ini mereka membaur dengan warga Poglar untuk menyambut penggusuran, bahkan perakilan dari berbagai organisasi ini telah cukup lama dan tingal bersama warga secara bergiliran untuk memperkuat persatuan warga dalam memperjuangankan hak atas tanah dan menetang penggusuran.

Namun hingga pukul 11.00 wib, belum ada tanda-tanda kedapatang pihak POLDA Metro jaya kelokasi untuk melakukan penggusuran, warga mengaku mendapat isu ada penundaan rencana penggusuran dan hari ini warga Poglar mendapat undangan dari komisi 3 DPR.RI. rencanya perwaklan warga akan menghadiri uandangan tersebut dan sebagain besar akan tetap menunggu di kolagi dengan malakukan orasi-orasi dan panampilan kebudayaan di pangung yang sudah didirikan sejak tadi malam.

Warga Kapuk Poglar sudah mendiami tanah di daerah ini sejak tahun 1970. Secara swadaya warga membangun kawasan yang semula adalah rawa-rawa, selama ini warga juga selalu  melakukan pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB), mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK) serta terlibat aktif dalam setiap pemilu atau pemilukada. Warga menempati tempat tersebut atas izin pemilik tanah bernama Emah Sarijah dan Epen yang secara sah memiliki Girik. Namun sejak tahun 1995 lahan yang mereka diami diklaim oleh Polda Metro jaya dan rencananya akan di bangun asrama POLRI. Gagal tahun 1995 POLRI terus menebar ancaman dan berupaya melakukan penggusuran lagi pada tahun 1997, kemudian tahun 2002 dan terakhir 2016 hingga saat ini.

Dalam pernyataan sebelumnya, Rahmat selaku ketua umum Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA)  menyatakan dukungan kepada warga kapuk Poglar untuk berjuang dan mengecam rencana penggusuran oleh POLDA serta menuntut kepada Kapolri agar memerintahkan kepada POLDA Metro Jaya agar membatalkan penggusuran paksa. AGRA menghawatirkan akan banyak terjadi palanggran HAM jika penggusuran tetap dilakukan oleh POLDA. baik itu pelanggaran terhadap berbagai undang-uandang karena kewenangan, maupun pelanggaran-pelanggaran lain yang dapat terjadi, seperti kekerasan, sebab warga kapul Poglra sudah bersiap untuk menghadapi rencana penggusuran tersebut.

Dalam pendanganya, situasi saat ini dibutuhkan peran pemerintah terkait untuk secara bersama-sama menangani konflik antara warga kapuk Poglar dengan pihak Kepolisin Daerah Metro Jaya, sudah saatnya komnas HAM, Komisi perlindungan anak maupun Komnas Perempuan untuk hadir dilokasi agar memastikan tidak ada terjadi pelanggaran HAM. begitu juga dengan pihak-pihak terkait lainya seperti Badan Pertanahan Nasional (kementerian ATR/BPN) untuk ambil peran penuh dalam upaya penyelesain konflik dan memastikan hak atas tanah terhadap warga kapuk Poglar.