Pernyataan Sikap PP-AGRA Atas Penangkapan Ketua AGRA Ranting Desa Olak-olak, Kubu Raya, Kalimantan Barat

234
BERBAGI
Foto Doc: Rapler

Pernyataan Sikap

Pimpinan Pusat AGRA Mengecam Penangkapan Terhadap Sdr. Ayub, Ketua AGRA Ranting Desa Olak olak Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya Propinsi Kalimantan Barat

Kekerasan, kriminalisasi dan berbagai bentuk pelangggaran HAM terus intensif dan massif menimpa kaum tani dan rakyat luas Indonesia sepanjang pemerintahan Jokowi-JK. Hampir diseluruh daerah terjadi perampasan tanah melalui berbagai skema, penggusuran terhadap kaum tani, suku bangsa minoritas, nelayan dan masyarakat luas di pedesaan maupun penggusuran rakyat di daerah perkampungan miskin perkotaan.

Melalui aparatnya dan dengan berbagai tuduhan, Pemerintahan Jokowi terus berupaya memberangus gerakan kaum tani dan rakyat disektor lainnya, melakukan terror dan intimidasi, penangkapan dan kriminalisasi terhadap pimpinan dan anggota organisasi-organisasi Rakyat.

Kali ini, kembali terjadi penangkapan paksa dan tanpa prosedur hukum yang jelas oleh Kepolisian Resort Mempawah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat terhadap Saudara Ayub, Ketua AGRA Ranting Desa Olak olak Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya Propinsi Kalimantan Barat.

Foto Doc: Pontiana Post

Penangkapan terhadap Saudara Ayub terjadi pada Selasa 22/02/2018, sekitar pukul 24.00 di Kantor AGRA Wilayah Kalimantan Barat. Enam (6) orang aparat kepolisian Mempawah yang ditemani oleh Bapak Junaidi, Ketua RT 001/RW 002 Dusun Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, datang ke Kantor AGRA tanpa menggunakan seragam dinas, tanpa membawa surat perintah dan tanpa menjelsakan apapun maksud kedatangannya. Mereka lansung membawa paksa saudara Ayub yang pada saat itu ditemukan didalam Kamar sudah beristirahat (tidur). Mereka (Aparat) bahkan tidak memperkenalkan diri dan tidak menjelaskan kenapa dan kemana mereka akan membawa Saudara Ayub.

Pada awalnya, mereka bahkan juga menanyakan keberadaan Sdr. Wahyu Setiawan (Ketua AGRA Wilayah Kalimantan Barat), tapi karena Wahyu tidak berada di tempat, mereka meminta masuk dan langsung membuka pintu kamar depan Kantor AGRA, dimana mereka mendapatkan Saudara Ayub yang sudah terlelap (istirahat), karena memang sudah tengah malam.

AGRA dan keluarga baru bisa memastikan bahwa yang membawa Saudara Ayub adalah Aparat Kepolisian Mempawah dari keterangan Bapak Ketua RT saat ditemui di Rumahnya oleh Saudara Wahyu. Ketua RT juga menjelaskan bahwa sebelumnya, Ia sudah didatangi dua kali oleh Aparat Kepolisian Mempawah, namun tidak menjelaskan apapun dan tidak membawa surat perintah apapun.

Di Kantor Kepolisian Resort Mempawah, Saudara Wahyu yang datang bersama Saudari Esti Kristianti (Kuasa Hukum Saudara Ayub) tidak diberikan bertemu dengan Saudara Ayub. Pihak Kepolisian bahkan tidak memberitahukan bahwa Ayub ditahan dimana. Padahal, maksud kedatangan Wahyu dan Kuasa Hukumnya adalah untuk memastikan keadaan Ayub baik-baik saja dan dimana keberadaannya, serta untuk memberikan bantuan hukum.

Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (PP-AGRA) menilai bahwa tindakan yang dilakukan oleh aparat tersebut adalah penangkapan paksa, tindakan semena-mena dan, tindakan yang melanggar ketentuan hukum yang berlaku. PP AGRA juga menyadari betul bahwa penangkapan Saudara Ayub, erat kaitannya dengan konflik Masyarakat dengan Perusahaan Perkebunan Sawit PT. CTB dan PT. Sintang Raya yang sampai saat ini belum diselesaikan oleh Pemerintah. Sepanjang Kasus ini berlansung, Kaum tani dan masyarakat setempat bahkan terus mendapatkan intimidasi, pemukulan, penangkapan dan kriminalisasi dari pihak perusahaan yang didukung oleh aparat keamanan dan pemerintah setempat. Pada tahun 2016 lalu, Masyarakat setempat bahkan terpaksa meninggalkan rumah dan kampong mereka, kemudian mengungsi ke daerah lain demi keamanan Mereka.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) mengecam dengan keras penangkapan paksa terhadap Sdr. Ayub yang dilakukan oleh aparat kepolisian Resort Mempawah, Kalimantan Barat. Terlebih lagi penangkapan tersebut dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku.

AGRA juga mengecam Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Gubernur Provinsi Kalimantan Barat dan seganap jajaran pemerintahan Jokowi yang tidak mau menyelesaikan konflik Masyarakat dengan PT CTB dan PT Sintang Raya yang terus berlansung tanpa penyelesaian hingga saat ini.

Bersama ini, PP AGRA juga menuntut:

  1. Segera bebaskan Saudara Ayub dan segegra hentikan proses kriminalisasi terhadap Saudara Ayub dan kaum tani lainnya yang sedang berkonflik dengan PT. CTB dan PT. Sintang Raya.
  2. Menuntut kepada Pemerintahan Jokowi, Gubernur Kalimantan Barat, Bupati Kubu Raya untuk segera menyelesaikan konflik masyarakat dengan PT. CTB dan PT. Sintan Raya yang sedang berlansung dan, segera kembalikan tanah Rakyat.

Bersama ini, PP AGRA juga menyerukan kepada seluruh Anggota dan Jajaran pimpinan AGRA diseluruh daerah, untuk memberikan dukungan pembebasan Saudara Ayub yang saat ini ditangkap dan dalam proses kriminalisasi oleh Aparat Kepolisian Mempawah tanpa prosedur hukum yang jelas.

AGRA juga mengajak kepada Jaringan dan masyarakat luas lainnya untuk bersama terus memperkuat persatuan, memajukan solidaritas dan melawan setiap upaya perampasan tanah dan setiap bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap Kaum tani dan Rakyat Luas Indonesia.

Jakarta, 23 Februari 2018

 

Hormat kami

 

Pimpinan Pusat

Aliansi Gerapan Reforma Agrari (PP-AGRA)

 

 

 

 

RAHMAT                                                           MOHAMAD ALI

Ketua umum                                                   Sekretaris Jenderal