Pesan AGRA Untuk Eni Lestari

739
BERBAGI

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Mengucapkan selamat kepada Sdri. Eni Lestari, Ketua Aliansi Migrant Internasional /International Migrant Alliance (IMA), yang terpilih sebagai salah satu Opening Speaker dalam Sidang Tingkat Tinggi PBB tentang Perdagangan Manusia (Human Trafficikng) dan masalah buruh migran.

Eni Lestari, terpilih sebagai pembicara di High Level Summit on Migrants and Refugee (Konferensi Tingkat Tinggi tentang Migran dan Pengungsi) yang akan diselenggarakan pada tanggal 19 September 2016 bertempat di Kantor Pusat PBB di New York, Amerika Serikat.

Ini pertama kalinya Majelis Umum PBB menyelenggarakan konferensi untuk menyusun sikap internasional yang lebih baik atas pergerakan massal migran dan pengungsi di dunia.

Dari 400 nama organisasi masyarakat sipil yang mengurus masalah migran dan pengungsi, hanya 9 orang yang dipilih. Eni Lestari akan berbicara di sesi pembukaan bersama dua pembicara lain mewakili pengungsi dan LSM internasional.

Terpilihnya Eni Lestari menunjukan adanya pengakuan bahwa buruh migran bisa menyampaikan sendiri pandangan dan tuntutannya terkait persoalan yang dihadapi buruh migran itu sendiri.

Atas kesempatan yang sangat baik didapatkan oleh Eni, AGRA mewakili seluruh anggotanya yang terdiri dari buruh tani, petani miskin, nelayan, dan sukubangsa minoritas menitipkan pesan agar dapat menyampaikan dalam sidang PBB tersebut bahwa akar migrasi dan perdagangan manusia adalah karena kemiskinan.

Bagi buruh migran secara khusus di Indonesia migrasi adalah keterpaksaan karena kemiskinan di pedesaan akibat dari perampasan tanah dan monopoli, desa tidak lagi dapat memberikan penghidupan dan kota tidak dapat menampung pengangguran yang terus bertambah. Oleh karena itu AGRA memandang bahwa penyelesaian migrasi dan perdagangan manusia hanya dapat terjadi jika pemerintah menjalankan reforma agraria sejati dan membangun industri nasional.

Selamat berjuang Kawan Eni.
Salam

Ali
Sekjed AGRA

https://unngls.org/index.php/80-home/2753-19sept2016-un-hlm-refugees-migrants