Pimpinan Pusat AGRA Mengecam Penggusuran dan Kekerasan Aparat Terhadap Masyarakat Kulon Progo, Yogyakarta

369
BERBAGI
Foto Restu Hanafi-DetikCom

Pimpinan Pusat

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (PP-AGRA)

“Mengecam Penggusuran Paksa dan Kekerasan yang dilakukan oleh Aparat Keamanan (TNI, POLRI dan POL-PP) terhadap Masyarak Kulon Progo, Yogyakarta”

Foto: Tafhim

Senin, 08/01/2018, Masyarakat Kulon Progo yang mayoritas kaum tani kembali dihadapkan dengan penggusuran paksa dan tindak kekerasan oleh aparat kemanan (TNI, POLRI dan Satpol-PP). Penggusuran dan tindak kekerasan aparat tersebut dilakukan dalam rangka pengosongan lahan di wilayah yang masuk dalam area rencana pembangunan bandara internasional baru Yogyakarta / New Yogyakarta International Airport (NYIA). Selain melakukan tindak kekerasan dan penghancuran rumah-rumah warga menggunakan alat berat, aparat juga melakukan pengrusakan lahan dan tanaman pertanian warga berupa Cabai, singkong dan, tanaman pangan lainnya.

Secara bringas, aparat memukul, menendang dan bahkan menjambak warga yang menghalangi proses penggusuran tersebut, baik laki-laki maupun perempuan. Akibatnya, lima belas (15) warga menjadi korban kekerasan tersebut, dua (2) Orang diantaranya bahkan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit karena tidak sadarkan diri dan harus mendapatkan perawatan.

Dari sisa penggusuran sebelumnya, saat ini masih terdapat 27 rumah warga dan 35 KK yang masih bertahan menolak penggusuran atas tanah dan tempat tinggal mereka. Namun kenyataannya, kekerasan memang sudah menjadi jalan utama bagi pemerintah dalam menggusur rakyat dan dalam menghadapi perlawanan rakyat yang berjuang mempertahankan haknya atas tanah dan tempat tinggal serta sumber penghidupan lainnya.

Foto: Tafhim

Hingga hari ini, penggusuran, tindakan represif dan kriminalisasi masih berlansung dilakukan aparat terhadap masyarakat Kulon Progo yang terus berupaya mempertahankan tanahnya. Aparat bahakn melakukan blockade dan melarang warga lain untuk masuk areal penggusuran, baik masyarakat yang datang untuk bersolidaritas maupun masyarakat yang datang untuk menyaksikan penggusuran paksa yang dilakukan secara kasar dan bar-bar tersebut. Hari ini, aparat bahkan menangkap empat (4) Orang Mahasiswa yang ada dilokasi, yakni:  1). Riski (Mahasiswa UMY), 2). Khaidar (UIN Yogyakarta), 3). Zaki (UGM), 4). Rozak (UIN Yogyakarta).

Pembangunan Bandar udara baru Yogyakarta (NYIA) di Kulon Progo merupakan salah satu dari 225 proyek strategis nasional yang tertuang didalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Pemerintahan Jokowi. Proyek ini akan dilakukan oleh Perusahaan Negara / BUNM (PT. PP), sedangkan nantinya operator akan dijalankan oleh PT. Angkasa Pura (PT. AP) bekerjasama dengan Gunupati Venkata Krishna (GVK) Power And Infrastructure Limited, yakni perusahaan asal India dengan nilai investasi 9,3 T. Proyek pembangunan bandara NYIA akan dibangun diatas lahan seluas 645,63 Ha yang merupakan lahan pertanian dan pemukiman warga yang berada di lima (5) Desa di kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo.

Foto: Tafhim

Penggusuran lahan dan tempat tinggal yang dialami oleh Rakyat Kulun Progo, Yogyakarta merupakan  bukti kongkrit atas praktek perampasan tanah oleh rezim Jokowi-JK selaku boneka Imperialis yang harus memastikan jaminan dan pemenuhan kepentingan imperialism di Indoensia, khususnya kepentingan untuk menyelesaikan krisisnya melalui berbagai skema eksport capital (Investasi, Hutang maupun hibah) atas capitalnya yang terus menumpuk agar dapat diputar dan menghasilkan profit kembali, serta penjarahan atas sumberdaya dan penghisapan terhadap tenaga kerja di Indonesia.

Imperialisme terus melakukan intervensi dan dominasinya baik secara politik maupun ekonomi melalui kaki tangannya di dalam negeri, yakni tuan tanah, borjuasi komperador dan, pemerintah boneka seperti Jokowi-JK dan segenap jajaran pemerintahannya dari pusat hingga daerah. Hal ini juga tentunya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan jaminan kelansungan bisnis dan usaha lainnya milik borjuasi komprador dan Imperialisme secara lansung, baik dalam pengelolaan system management Bandara maupun usaha-usaha terkait lainnya disekitar bandara.

Celakanya, untuk menjalankan pelayanan tersebut, pemerintahan Jokowi lebih memilih menggusur dan melakukan kekerasan terhadap rakyatnya, demi pelayanan dan perlindungan atas kepentingan Tuan Imperialimenya. Hal tersebut juga semakin menunjukkan kepada seluruh Rakyat Indonesia akan watak asli Rezim Jokowi-Jk yang sangat fasis dan anti terhadap rakyat.

Atas dasar kenyataan diatas, maka Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Mengecam penggusuran paksa terhadap lahan pertanian milik kaum Tani di Kulon Progo untuk pembangunan Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA), Serta menuntut kepada pemerintahan Jokowi-JK dan jajarannya untuk segera:

  1. Menghentikan Penggusuran di Temon, Kulon Progo
  2. Hentikan Kekerasan Terhadap Rakyat
  3. Hentikan Pembangunan Bandara (NYIA)
  4. Bebaskan empat (4) Mahasiswa yang ditangkap aparat
  5. Tolak RA palsu Jokowi dan Wujudkan Reforma Agraria Sejati

AGRA juga menyerukan kepada seluruh Anggota, kepada Kaum tani dan seluruh Rakyat Indoensia untuk memberikan dukungannya kepada Masyarakat Kulon Progo yang tengah berjuang mempertahankan haknya atas tanah dan tempat tinggal. AGRA juga menyerukan  untuk terus memperkuat persatuan dan memajukan perjuangan.

Hidup Kaum Tani!

Jayalah Perjuangan Rakyat!

 

Jakarta, 09 Januari 2018

 

Pimpinan Pusat

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA)

 

Rahmat

Ketua