Semangat Menyongsong Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2017 dan Kongres Pemuda Desa Internasional 2018

352
BERBAGI

“Momentum Peringatan HTN 2017 harus menjadi ruang kampanye atas berbagai persoalan kaum tani dan seluruh rakyat tertindas Indonesia, sekaligus menjadi jembatan untuk Mempersatukan Rakyat dalam perjuangan anti feodal dan anti imperialisme, untuk mewujudkan reforma agraria sejati dan”, Mohammad Ali (Sekjend AGRA).

Rapat umum anggota, AGRA Pangalengan, Jawa Barat

Menjelang hari tani nasional (HTN) 2017, yang bertepatan dengan 57 tahun undang-undang pokok agraria (UUPA), gerakan kaum tani diberbagai daerah aktif melakukan berbagai aktifitas persiapan rangkaian peringatan momentum tersebut (HTN) yang tentunya sangat penting bagi kaum tani dan rakyat Indonesia, sebagai ruang untuk terus memajukan kesadaran dan memperkuat persatuan kaum tani, suku bangsa minoritas, Nelayan dan rakyat secara luas. Hal tersebut sekaligus sebagai ruang untuk mengkampanyekan berbagai persoalan agraria, persoalan pangan dan persoalan lainnya yang dihadapai oleh Kaum tani saat ini.

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Diatas semangat persatuan mewujudkan reforma agraria sejati dan dalam berbagai persiapan menyongsong HTN saat ini, diberbagai wilayah persebarannya telah mulai melakukan berbagai kegiatan konsolidasi-konsolidasi, rapat-rapat massal, pendidikan dan berbagai aktifitas lainnya.

Rahmat Ajiguna (Ketua Umum AGRA/Sekjend APC), dalam penggalan Seruan Kampanyenya menyatakan bahwa, kaum tani sebagai komposisi paling mayor di Indonesia, namun hingga 57 tahun UUPA dan 72 tahun Indonesia Merdeka saat ini, masih terbelenggu dalam kemiskinan dan kemerosotan hidup yang semakin memburuk.

“Seperti halnya simpulan dalam analisis-analisis organisasi sebelumnya, Kami ingin mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa, penghidupan rakyat, utamanya kaum tani dan suku bangsa minoritas serta masyarakat luas pedesaan di Indonesia saat ini semakin hari semakin merosot, akibat dominasi dan penghisapan Imperialisme yang ditopang oleh kaki tangannya didalam negeri, “borjuasi komprador dan tuan tanah” serta jaminan dan perlindungan Negara dibawah kuasa Rezim Boneka Jokowi-JK. Terutama dalam merampas dan memonopoli tanah dan sumberdaya alam, monopoli sarana produksi pertanian (Alat kerja, input dan output produksi) hingga distribusi hasil pertanian dibawah skema neoliberal, serta berbagai bentuk penghisapan lainnya”, jelas Rahmat.

Seperti halnya rakyat disektor yang lain, kaum tani juga terus dihadapkan dengan teror dan Intimidasi, berbagai tindak kekerasan, penangkapan dan kriminalisasi. AGRA diberbagai wilayah persebarannya, saat ini justeru mengalami tekanan yang semakin keras. Belum lama ini, konflik kaum tani dan perusahaan perkebunan sawit di Olak-olak, Kubu Raya Kalimantan Barat kembali memanas, dimana Perusahaan Perkebunan sawit (PT. CTB dan PT. Sintang Raya) mengklaim tanah kaum tani masuk kedalam konsesi lahan perkebunannya. Mereka juga melakukan panen paksa buah sawit diatas lahan milik kaum tani.

Kenyataan serupa dialami oleh Kaum tani dan masyarakat adat di Sembalun, Jurang Koak dan Sambelie Lombok Timur, serta masyarakat seputar taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka berkali-kali diintimidasi, di terror dan bahkan dikriminalkan, terancam diusir dari lahan dan tempat tinggalnya akibat klaim tanah oleh PT. Sadana dan rencana operasionalisasi TNGR. Di Jawa Tengah, kaum tani dan masyarakat pedesaan sekitar gunung Slamet terancam digusur dan mulai mengalami berbagai kerugian akibat pembangunan proyek tambang energy panas bumi (geothermal), yang telah merusak lahan dan tanaman mereka. Di Dompu NTB, tiga orang nelayan ditangkap karena melakukan aksi penolakan pembangunan pelabuhan, yang dinilai mengancam zona tangkap dan sumber ekonominya.

Demikian juga dengan kaum tani di Pangalengan, Jawa Barat. Perjuangan panjang mereka mempertahankan tanah, terus mendapatkan tekanan dan intimidasi dari pemerintah yang meminta mereka menyerahkan tanahnya sebagai objek reforma agaria (TORA) Jokowi. Hal serupa juga terjadi di berbagai daerah lainnya, yang semakin memperparah penderitaan rakyat, tegas Rahmat.

Harry Sandy Ame (KaDept. Kampanye dan Hubungan Internasional AGRA/Ketua YFS) juga menjelaskan bahwa, peringatan HTN 2017 kali ini, selain bersamaan dengan situasi krisis dan kian merosotnya penghidupan kaum tani di Indonesia, juga bersamaan dengan bangkitnya gerakan kaum tani dan rakyat yang semakin luas. Demikian juga dengan bangkitnya gerakan pemuda, baik di pedesaan maupun perkotaan yang semakin sadar atas seluruh kepentingan dan persoalan sektoralnya tidak terlepas dari persoalan pokok kaum tani atas perampasan dan monopoli tanah serta penguasaan atas sumber-sumber daya alam lainnya. Karenanya, gerakan pemuda, utamanya pemuda pedesaan diberbagai negeri kian bangkit dan menyatakan komitmennya untuk terus bertalian erat dengan organisasi dan perjuangan rakyat, khususnya dalam perjuangan kaum tani untuk reforma agraria sejati dan kedaulatan pangan.

Dalam hal ini, AGRA bersama koalisi petani Asia/Asian Peasant Coalition (APC) pada tahun 2014 di Malaysia, telah bersepakat untuk membangun gerakan pemuda pedesaan disetiap Negeri dan berambisi untuk membangun persatuan dan gerakan pemuda desa Internasional, baik ditingkat kawasan maupun global. Kuatnya aspirasi tersebut kemudian dapat dikongkritkan dengan Kongres Pendirian dan Deklarasi Pemuda Desa Internasional di Manila, 2016 dihadiri oleh 34 oran peserta dari 11 Negara, dengan nama Organisasi, “International Youth for Food Sovereignty (YFS)”.

 

Salah satu amanat deklarasi dan kongres pendirian tersebut adalah, menyelenggarkan Kongres perdana di Indonesia pada bulan Maret 2018 mendatang. Terakhir, melalui rapat secretariat dan Dewan Koordinasi Internasionalnya di Kamboja pada 4 September lalu, YFS menetapkan program aksi dan kampanye menuju kongres, salah satunya adalah launching hari Pemuda Desa Internasional, sekaligus sebagai bagian kampaye 16 hari Aksi Global untuk kedaulatan pangan.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam momentum peringatan HTN 2017 ini, AGRA akan mengkoordinasikan aksi dan kampanye serta berbagai rangkaian kegiatan secara parallel dengan kampanye kedaulatan pangan global, mulai dengan mobilisasi serentak tanggal 24 September, launching hari pemuda desa internasional pada 1 oktober, dan seluruh kegiatannya akan dipuncaki dengan peringatan hari prempuan pedesaan internasional 15 oktober dan hari kelaparan (ketiadaan pangan) seduani 16 Oktober mendatang. Seluruhnya dikemas dalam peringatan HTN dan 16 hari Aksi Global yang dipimpin oleh AGRA dan APC bersama jaringan organisasi dan koalisi global lainnya, Jelas Sandy.

Mohammmad Ali (Sekjend AGRA) juga menyampaikan bahwa,  momentum hari tani nasional ini harus dapat dijadikan salah satu ruang untuk terus mengkampanyekan berbagai persoalan kaum tani dan seluruh rakyat tertindas Indonesia, memblejeti kebijakan “Reforma Agraria Palsu dan Perhutanan Sosial (RA-PS) Jokowi, beserta seluruh kebijakan neoliberal dan tindasan fasisnya terhadap rakyat, terutama ancaman fasis kebijakan barunya atas nama stabilisasi politik dan keamanan nasional, melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (PERPPU) No. 2 tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan.

“Kami harapkan Kawan-kawan di semua tingkatan dapat menjalankan seluruh persiapan dengan baik, sehingga kita benar-benar dapat memanfaatkan momentum ini, yang secara bersamaan juga harus menjadi jembatan untuk terus membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan seluas-luasnya kaum tani, pemuda dan rakyat secara luas, untuk ambil bagian dalam perjuangan anti feodal dan anti imperialisme, guna mewujudkan reforma agraria sejati dan kedaulatan pangan, serta untuk memajukan solidaritas internasional perjuangan rakyat tertindasa seluruh dunia”, tutup Ali.

Berita Terkait: 

http://agraindonesia.org/pemuda-internasional-siap-launching-hari-pemuda-desa-internasional-menuju-kongres-perdana-di-indonesia-tahun-depan/

http://agraindonesia.org/youth-to-take-centerstage-in-october-global-day-of-action/

http://agraindonesia.org/memajukan-kesadaran-pemuda-desa-dalam-perjuangan-reforma-agraria-sejati/