Sintang Raya Berulah Kembali

167
BERBAGI

Jakarta, 14/11/16. Konflik tanah antara PT. Sintang Raya dengan 8 desa di Kacamatan Kubu, Kabupaten Kuburaya, Propinsi Kalimantan Barat hingga saat ini tidak ada penyelesaian oleh Pemerintah. Terakhir konflik kembali memanas ketika warga desa Olak-Olak kubu sudah habis kesabaranya karena pemerintah lambat untuk menyelesaikan.

Akibatnya warga terdorong untuk memanen tandan buah sawit di lahan milik warga yang di klaim menjadi milik PT. Sintang Raya, sebagai bentuk protes agar diperhatikan oleh pemerintah dan segera ada penyelesaian, namun aksi warga tersebut dibalas dengan penetapan beberapa orang sebagai tersangka dan bukan mendapat penyelesaian, akibatnya warga melanjutkan untuk aksi damai dekebun untuk menuntut adanya penyelesain konflik tanah dan membatalkan penetapan bebrapa orang sebagai tersangka.

Lagi-lagi usaha warga untuk menuntut adanya penyelesaian justeru ditanggapai dengan kekerasan, pada aksi tanggal 14 juli 2016 justeru ditangapi oleh pihak PT. Sintang Raya dengan  memobilisasi aparat kepolisian dan melakukan kekerasan dan penangkapan, setidaknya 11 orang mengalami kekeasan dan 4 orang ditangkap dan dijadikan tersangka, tidak hanya itu tindakan PT. Sintang Raya dan kepolisian yang melakukan terror pasca aksi mengakibatkan ratusan orang dari desa olak-olak harus mengungsi di kantor komnas HAM daerah.

Bulan Juli lalu hingga Oktober kasus ini menjadi isu nasional dan mendapat sorotan public, hingga lembaga Negara pusat turun tangan untuk meredam kekerasan yang dilakukan oleh parat, pada perkembanganya pemerintah daerah Kalimantan Barat berjanji akan menyelesaikan konflik ini dalam waktu cepat, namun hingga saat ini belum ada kemajuan dalam penyelesaian konflik, PT. Sintang Raya tetap beroperasi meskipun HGU sudah dibatalkan oleh pengadilan.

Perkembangan terbaru, PT. Sintang Raya kembali membuat ulah dengan embuat parit di desa Seruat dua dan desa Seruat tiga yang menurut warga telah mengambil kembali lahan-lahan pertanian milik warga desa. Atas kejadian ini, Sekertaris jenderal AGRA (Mohamad Ali) menyampaikan rasa kecawa terhadap pemerintah Kabupaten Kuburaya karena terus melindungi PT. Sintang Raya, Ali juga mengecam dan menuntut kepada PT. Sintang Raya untuk  menghenikan merampas tanah tanah pertanian warga, dan segera mengembalikan tanah-tanah milik warga yang selama ini dikelola oleh PT. Sintang Raya. Kami juga menuntut kepada PT. Sintang Raya, memberikan hak-hak petani plasma dan membayar upah buruh yang lebih manusiawi.