Widhie, Anak Dua Tahun Yang Tengah Berjuang Melawan Meningoencefalokel

105
BERBAGI
Foto:Kevin

“Mari Ulurkan Kasih Untuk Kecerian dan Masa Depan  Widhie Santoso Puteri”

Data Widhie Santoso Puteri dan Keluarga 

Widhie Santoso Puteri anak usia 2 (dua) tahun dari pasangan Budi Santoso (24) dan Linda Pranata (19), tinggal di desa Sampalit, kelurahan Sijangkung kec. Singkawang selatan, kota Singkawang- Kalimantan Barat.

Whidhe lahir dan diasuh oleh keluarga pasangan yang relative masih muda dengan tingkat ekonomi yang rendah, ayah Widhie adalah pekeja serabutan dan Ibunya mengurus keluarga sembari berjualan pakaian secara online.

Penghasilan kedua orang tua Widhie dari pekerjaan selama ini tidak menentu, pendapatanya hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok harian dalam keluarga sehingga upaya pengobatan Widhie tidak kunjung dilakukan oleh keluarga.

Widhie dan Penyakit Meningoencefalokel

Meningoesefalokel adalah suatu kelainan benjolan diselaput otak dan otak akibat ketidak sempurnaan tulang dasar tengkorak yang tidak  menutup dan mengakibatkan gangguan fungsi otak, kasus semacam ini diperkirakan 2 banding 35.000 kelahiran di dunia.

Whidhie adalah salah satu penderita Meningoesefalokel sejak lahir, kelainan terhadap Widhie diketahui sejak dalam kandungan usia 7 bulan berdasarkan hasil USG, ketika itu ditangani oleh dokter kandungan Trifina di RSUD harapan bersama Singkawang. Untuk mengetahui kepastian kelaian janin orang tua Widhie disarankan agar melakukan pemerikasaan ulang ke dokter lain.

Atas saran dari dokter Trifina orang tua widhi kemudian kembali melakukan pemerikasaan ke Klinik yang mendapat penanganan dokter Liau Songkono, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Liau ditemukan adanya benjolan di bola mata dan hidung dengan prediksi awal Widhie ada kemungkinan menderita kangker dan kemungkinan ada tindakan untuk mengangkat bola mata (operasi), tentu saja penjelasan yang disampaikan oleh dokter Liau membuat kedua orang tua Widhie mejadi “down” sehinga memilih untuk melanjutkan pemeriksaan kandungan secara rutin di dokter Trifina hingga melahirkan.

Widhie lahir di Rs. Vincent dengan proses normal pada 23 Januari 2015 dengan berat 2,8 kg dn panjang 49 Cm, sejak lahir terdapat benjolan diwajah, menurut keterangan dari dokter benjolan dipipi Widhie tidak berbaha namun lebih baik dilakukan operasi pada usia 3 bulan atau 2 tahun.

Seiring dengan pertumbuhan Widhie benjolan diwajah mengalami pertumbuhan pula, melihat perkembangan tersebut orang tua Widhi berkeinginan untuk melakukan pengobatan dengan mencari informasi mengenai besaran biaya jika Widhie di operasi,  namun informasi yang didapatkan untuk melakukan operasi dan pengobatan membutuhkan biaya yang sangat tinggi, sehingga orang tua Widhi belum kunjung juga membawa widhie ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.

Upaya Orang Tua dan Perjungan Widhie Melawan Meningoencefalokel

Hingga akhirnya pada September 2016, keluarga Widhie terhubung dengan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Kalimantan Barat dan kemudian bersepakat untuk untuk melakukan pengobatan terhadap Widhie secara bersama sama. Bersama dengan jaringan lainya yakni, Kalbar Bangkit (organisasi social di Kalimantan Barat) dan Inspirasi Kreativitas Biak Singkawang, kemudian melakukan penggalangan dukungan keuangan kepada masyarakat luas di Singkawang dan di Pontianak.

Langkah pertama setelah terkumpul dukungan, tim yang terdiri dari perwakilan berbagai organisasi, mebayar tunggakan iuran BPJS Widhie dan keluarganya, mengurus segala surat menyurat yang dibutuhkan dari Instasi terkait dan kemudian mulai memeriksakan Widhi ke Rs. Soedarso pada tanggal 21 September 2016.

Hasil pemerikasaan rumah sakit Soedarso, dibawah penanganan dokter Hermanto (spesilis bedah anak) dengan diagnose Meningoencefalokel, kemudian dirujuk ke dokter bedah syaraf yang ditangani oleh dokter Seno. Kemudian Widhie mendapat rujukan ke bagian radiologi untuk dilakukan citiscan guna mendapatkan kepastian hasil dari diagnose awal dan hasil citiscan Widhie positif menderita Meningoesefalokel. Karena keterbatasan pihak RS. Soedarso Widhie kemudian dirujuk untuk melakukan operasi di RSCM Jakarta.

Pada tangal 9 Januari 2017, Widhie bersama kedua orang tua dengan didampingi oleh dua orang dari perwakilan organisasi dari Kalimantan Barat datang Ke Jakarta dan terhubung dengan AGRA Pusat untuk mendpatkan pelayanan selama pengobatan di Jakarta, Widhie dan keluarga akan bersama dengan AGRA selama menjalani pengobatan di Jakarta.

Tanggal 11 Januari, Widhie bersama keluarga dan pendamping mulai melakukan pengobatan ke RSCM, pihak pendaftaran kemudian mengeluarkan rujukan kepoli bedah syaraf yang ditangani oleh dokter Jerry, hasil diaknosa doketer Jerry menjalsakn bahwa Widhei menderita Meningoesefalokel, pihak dokter menyatakan pengobatan tidak dapat dilakukan secara cepat, tindakan operasi membutuhkan persiapan yang matang dan dokter memperkirakan tingkat keberhasilan tindakan operasi 80% dengan resiko kemungkinan 50% akan terjadi gangguan dalam otak/tingkat kecerdasan.

Untuk dilakukan operasi, terdapat 5 lima tahap yang harus dijalani oleh Widhie diantaranya, pertama Widhie akan menjalani pemeriksaan tes darah ke laboratorium, Kedua Menjalani radiologi (scan thorax/dada) untuk pemeriksaan jantung. Ketiga Kepoli umum anak untuk dilakukan analisis hasil pemeriksaan darah dari Laboratorium dan hasil dari Scan thorax. Keempat ke Anestesi untuk mendapatkan konsultasi dan pendampingan saat dilakukan Citiscan 3D. kelima Menjalani Radiologi (Citi Scan 3D).

Perkembangan saat ini, Widhie telah menjalani tes darah, scan thorax dan bertemu dengan dokter anak untuk dilakukan pembacaan tes darah tidak ditemukan ada penyakit lain hanya saja ditemukan sel darah putih diatas normal, menurut keterangan dokter hal ini karena adanya inveksi yang disebabkan oleh batuk dan pilek. Sedangkan hasil dari Scan thorax jantung widhie bagus.

Karena adanya infeksi maka dokter Baike tidak mengeluarkan rujukan kepada Widhie untuk dilakukan radiologi sampai benar benar sembuh, karena doter mengeluarkan resep mendapatkan obat bantu dan pileknya. Baru setelah sembuh akan dilakukan rujukan ke Anastesi.

Pada tanggal 18 Januari, Widhie di bawa kembali ke RSCM untuk bertemu dengan dokter Anak dan ditangani oleh dokter Dila, hasil pemerikasan kondisi Widhie sudah baik dan mendapat rujukan untuk ke Anastesi. Saat ini Widhie tengah menunggu untuk ke Anastesi pada tanggal 27 Januari, setelah menunggu selama 9 hari lamanya, pemeriksaan ke Anastesi tidak dapat dijalankan arena Widhi sedang mengalami demam sehingga Anastesi tidak dapat dilakukan kedua kalinya sampai menunggu Widhie benar benar sembuh dari demam, batuk dan filek.

setelah sempat beberapakali mengalami penundaan jadwal, akhirnya selasa, (7/2/2017) widhie mendapat tindakan CT Scan pada pukul 12 siang setelah 9 jam berpuasa, mundur dari jadwal yang sebelumnya telah ditentukan .

CT Scan berjalan lancar, “hasilnya baru bisa diambil 3-4 hari kemudian atau mungkin saja bisa lebih dari perkiraan, hanya saja pihak keluarga akan dihubungi pihak Rumah sakit jika hasil Ct. Scan sudah keluar. selanjutnya jika hari senin depan (13/2) hasil sudah dapat diketahui dan akan dibawa ke Poli bedah Saraf untuk dianalisa sebagai dasar tindakan media (operasi).

Orung tua Widhie dan seluruh team yang membantu tentusaja berharap dan meminta doa dan dukungan semua pihak semoga proses yang dapat berjalan dengan lancar dan cepat,

Dukungan Untuk Perjuangan Widhie

Mendasarkan latar belakang ekonomi keluarga Widhie dengan pekerjaan kedua orang tua yang tidak menentu, menjadi kendala besar untuk pengobatan Widhie. Saat ini pengobatan yang sedang dijalani oleh Widhie karena usaha dari berbagai organisai masyarakat diantaranya, KALBAR Bangkita, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Inspirasi Kreativitas Biak Singkawang, dengan melakukan pengalangan dukungan dana dari masyarakat luas di Kalimantan Barat sehingga sejak tanggal 9 Januari 2017 Widhie mulai kejakarta dan menjalani pengobatan di RSCM dan saat ini Widhie bersama kedua orangtuanya tinggal di Kantor AGRA.

Meskipun Widhie menjadi peserta BPJS namun karena kedua orang tidak lagi dapat menjalankan pekerjaan ekonomi seperti biasa, tentu saja upaya pengobatan Widhie menjadi tanggungan yang berat bagi kedua orangtuanya, dan kondisi inilah yang membutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.

Saat ini, AGRA sebagai pendamping pengobatan Widhie yang beralamat di Jl. Ketang-Ketang No.9 Rt. 003/007 Kelurahan Jati, Kecamatan Pulogadung-Jakarta Timur, mengundang semua pihak berpartisipasi dan mengulurkan tangan untuk memberikan dukungan dengan berbagai bentuk. Bagi yang ingin memberikan dukungan keuangan dapat langsung diserhkan kepada pihak keluarga, atau pendampin atau mengirimkan ke rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Rawamangun atas nama Aliansi Gerakan Reforma Agraria, Rek ; 0386-0100-0923-303.

Demikian panggilan kemanuasian ini kami buat dan sebarluaskan, tentusaja kami sangat senang ada pihak yang terpanggil dan memberikan dukungan, tentusaja kami tidaksemata mata membutuhkan dukungan dana, tetapi saran dan masukan untuk usaha penyembuahan Widhie sangat kami harapkan dan jika ingin memberikan dukungan atau sekedar ingintahu atas keadaan Widhhie dapat menghubungi orang tua Widhie atau pendamping di bawah ini :

  1. Budi Santoso atau Linda Pranata No. Hp 085822288275 (Orang tua Widhie)
  2. Rama No. Hp. 081313342386 (Pendamping di Jakarta)

 Apapun dukungan yang anda berikan, tentu saja sangat membantu terhadap upaya pengobatan yang sedang kita lakukan terhadap Widhie Santoso Puteri (penderita Meningoencefalokel).