AGRA Peringati 14 tahun Kebangkitan Perjuangan Petani Pangalengan.

217
BERBAGI

Jawa Barat, 10 Juli 2018. Lebih dari 500 orang kaum tani kecamatan  Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dan petani penggarap lahan ALBA yang terancam perampasan tanah oleh Proyek LEUWEUNG SABILULUNGAN Pemkab Bandung, menggelar peringatan 14 perjuangan petani lahan Sampalan  mempertahankan lahan garapan ditanah Sampalan yang merupakan lahan yang diterlantarkan oleh Perusahaan Daerah Agro Pertanian (PDAP) atau dikenal dengan nama PT. AGRO JABAR.

Peringatan kali ini dilakukan dilapangan SKIP lahan sampalan, dengan mengangkat tema “Petahankan tanah garapan untuk penghidupan kaum tani dan lawan skema perampasan tanah oleh PT. AGRO JABAR dan proyek CITARUM HARUM”.

Sutarman, ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Anak Cabang Pangalengan menegaskan dalam pernyataan sikapnya bahwa, kaum tani harus terus memperkuat dan menperluas organisasinya untuk melawan segala bentuk monopoli dan perampasan tanah, serta  memajukan perjuangan Land Reform sejati.

Rahmat, ketua umun AGRA menyampaikan apresiasi atas perjuangan yang dilakukan kaum tani di Pangalengan, yang terus bertahan hingga saat ini. Apalagi saat ini kaum tani di Jawa Barat, khususnya yang berada di sekitar aliran sungai Citarum tengah menghadapai ancaman perampasan ruang hidup mereka melalui proyek ambisius pemerintahan Jokowi-JK bernama CITARUM HARUM. Proyek ini didanai oleh Word Bank (WB), Asian Development Bank (ADB) dan Bank ARTHA GRAHA yang bekerja sama dengan Perum PERHUTANI dan PT. London Sumatra (LONSUM) yang dikawal sekitar 600 personil TNI dari KODAM III Siliwangi sektor I dan sektor II yang dipimpin oleh Kolonel Infantri Yanto Kusno dan Kolonel Infantri Catur dan ditempatkan di desa Taruma Jaya, Cikembang dan Cibeureum kecamatan Kertasari.

Proyek Citarum Harum yang berlindung dibalik proyek penghijauan DAS Citarum melalui Perpres No. 15 tahun 2018 telah memaksa petani penggarap untuk menanam pohon kayu, kopi, aren dan sereh wangi. Padahal sudah belasan tahun petani disekitar DAS Citarum menanam sayuran, baik itu kentang, kol, tomat dan berbagai jenis lainnya. Karena Proyek ini petani hanya dibolehkan menanam cabai dan terong saja disela-sela tanaman kayu yang berjarak 2×2 M. Selain itu, bangunan rumah di sekitar DAS Citarum harus di bongkar dan petani dipaksa menandatangani surat pernyataan untuk mengganti jenis tanaman, dan apabila menolak maka lahan garapan akan di ambil secara paksa oleh TNI.

Periode April – Mei 2018, setidaknya sudah 2 (dua) rumah warga dan 11 lahan pertanian telah dihancurkan dengan paksa oleh TNI yang berada disana, serta 3 (tiga) orang petani ditahan karena menolak proyek tersebut.

Oleh karena itu, dalam kesempatan peringatan 14 tahun  perjuangan kaum tani di Pangalengan, Rahmat menyatakan bahwa AGRA mendukung sepenuhnya perjuangan kaum tani tanah Sampalan, petani penggarap lahan ALBA dan petani penggarap di sekitar DAS CITARUM.

AGRA juga menuntut kepada pemerintahan Jokowi-JK untuk:

  1. Berikan tanah eks PDAP diseluruh Jawa Barat kepada kaum tani tanpa syarat.
  2. Hentikan Intimidasi tethadap petani penggarap lahan ALBA dan petani penggarap sekitar DAS Citarum serta memberikan tanah-tanah tersebut kepada kaum tani tanpa syarat.
  3. Turunkan harga sarana produksi pertanian dan naikan harga hasik produksi kaum tani serta menghentikan import produk pertanian.
  4. Hentikan proyek CITARUM HARUM, cabut PERPRES No. 15 tahun 2018 tentang percepatan pengendalian pencemaran dan perusakan daerah aliran sungai Citarum.
  5. Berikan ganti rugi terhadap petani penggarap yang menjadi korban CITARUM HARUM dan tari pasukan TNI dari hulu Citarum.
  6. Hentikan program Reforma Agraria Palsu Jokowi-JK dan jalankan Reforma Agraria sejati dan Industri Nasional.

Tonton Video Pernyatan Sikap Kaum Tani Pengalengan dalam Peringatan 14 tahun kebangkitan perjuanganya. https://youtu.be/OHBEVMVx60s