Mahasiswa Bandung Menolak Komersialiasi Pendidikan Tinggi

258
BERBAGI

Bandung, Puluhan organisasi mahasiswa dari berbagai Universitas di Bandung menyatakan sikap menolak komersialisasi pendidikan tinggi.

Pernyataan sikap ini merupakan bagian dari rangkaian acara Diskusi Panel Terbuka di panggung Fisip UNPAD Jatinangor dengan tema “Perkuat persatuan menentang liberalisasi pendidikan tinggi. Senin, (04/05/2018).

“Persoalan komersialisasi pendidikan di perguruan tinggi bukan hanya persoalan mahasiswa semata, tetapi menyangkut persoalan rakyat Indonesia secara umum. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari hak atas akses pendidikan yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar.” ungkap Symphati Dimas, Kordinator Komite Perguruan Tinggi Negeri, sekaligus Ketua Umum Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Dimas menyatakan dengan adanya liberalisasi dan komersialisasi di perguruan tinggi, rakyat Indonesia dari klas buruh dan kaum tani tidak bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan karena adanya legitimasi yang dibuat oleh pemerintah UUPT No 12 Tahun 2012 membuat mahalnya perguruan tinggi.

“Padahal mayoritas Rakyat Indonesia terdiri dari klas buruh dan kaum tani”. Pungkas Dimas, saat diwawancarai disela-sela acara.

Selain itu, Perwakilan mahasiswa dari ITB, Galih Norma, menyatakan akan memperluas dan menkonsolidasikan persoalan komersialisasi di Universitasnya.

“Saya secara pribadi menolak komersialisasi pendidikan tinggi, dan akan siap melakukan perluasan untuk memperluas kesadaran mahasiswa di ITB tentang hal ini”. Ujar Galih saat pernyataan sikap.

Setelah selesai panelis dari perwakilan mahasiswa menyampaikan implimentasi praktek komersialisasi di setiap kampus, dihadirkan pula perwakilan dari buruh dari KASBI dan tani dari AGRA.

“Tidak ada buruh tani yang bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, jika ada, mereka harus melakukan kerja tambahan.” Ungkap Nuim, perwakilan AGRA Jawa Barat.

Selain itu, perwakilan dari setiap kampus menyepakati dibentuknya Komite Peguruan Tinggi Negeri  Regional Jawa Barat untuk menjadi wadah perjuangan bersama untuk terus memperluas gerakan ke setiap kampus di Jawa Barat. Setelah itu menentukan kordinator, dan terpilihlah Abdul Rokib dari UIN Bandung, menjadi kordinator Komite Perguruan Tinggi Nasional Regional Jawa Barat.

“Saya ungkapkan terima kasih kepada setiap perwakilan organisasi telah mempercayai untuk menjadi koordinator. Saya selaku Kordinator Komite Perguruan Tinggi Negeri Regional Jawa Barat menyerukan kepada seluruh mahasiswa di Jawa Barat untuk memperkuat persatuan, dan menggelorakan perjuangan menolak komersialisasi pendidikan di perguruan tinggi”. Ungkap Rokib.

(Abdul)