Pernyataan Sikap FPR Mengecam Teror Berdarah dan Agresi Pemerintah Turki Terhadap Rakyat Afrin

120
BERBAGI

Pernyataan Sikap

Front Perjuangan Rakyat (FPR)

Mengecam Dengan Keras Seluruh Tindakan Teror dan Agresi Pemerintah Turki Terhadap Rakyat Kurdi!

Solidaritas Penuh Untuk Perjuangan Rakyat Kurdi untuk Keadilan, Perdamaian dan Untuk Menentukan Nasib Sendiri!

Kami, Front Perjuangan Rakyat (FPR), Liga Perjuangan Rakyat Internasional (ILPS) Chapter Indonesia dan Organisasi Massa Demokratis lainnya di Indonesia, Mengecam agresi yang dilakukan oleh Pemerintah Turki terhadap bangsa Kurdi di wilayah Afrin bagian Utara Suriah dengan menggunakan pemboman udara, tembakan artileri dan tank dalam kampanye yang terus dilakukan dalam menindas rakyat Kurdi dan untuk menekan gerakan pembebasan Rakyat Kurdi.

Kami juga menyampaikan salut dan bangga kepada seluruh gerakan progressif, demokratis dan seluruh rakyat bangsa Kurdi di Afrin, di Turki, Suriah dan di Negara-negara lainnya atas konsistensi perjuangannya melawan serangan dan setiap bentuk operasi militer dan teror berdarah Pemerintah Turki dibawah kekuasaan Erdogan.

Kami juga mendukung rakyat Kurdi atas komitmen perjuangannya yang gagah berani dalam mempertahankan tanah dan wilayahnya di Rojava-Suriah Utara, mendukung perjuangan Rakyat Kurdi untuk pembebasan nasional dan menentukan nasib sendiri sebagai bangsa demokratis yang mandiri, serta untuk mewujudkan keadilan, kemerdekaan dan pembebasannya.

Secara historis, Bangsa Kurdi memang telah lama ditindas dan didiskriminasikan. Bahasa mereka bahkan telah dilarang di Turki. Pemerintah telah menyerang beberapa kota Kurdi dengan menggunakan senjata api dan peralatan perang dengan dalih bahwa itu adalah serangan polisi terhadap teroris. Kenyataannya, ini adalah agresi dan pendudukan yang disengaja terhadap orang Kurdi. Serangan tentara Turki di Afrin dan daerah-daerah sekitarnya sejauh ini telah menewaskan 18 orang dan melukai 23 warga sipil di antaranya perempuan dan anak-anak.

Penindasan dan berbagai agresi yang panjang dihadapi oleh Bangsa Kurdi selama ini, tidak terlepas dari perang kepentingan Imperialisme di Wilayah tersebut, terutama Imperialisme Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Perang kepentingan tersebut terutama untuk perebutan dan untuk mengamankan sumber minyak dan jalur pipa gas yang ada didaerah tersebut. Selain itu, hal ini juga tidak terlepas dari kepentingan Imperialisme dalam persaingan perdagangan senjata dan, untuk meng-counter gerakan rakyat, bangsa kurdi yang terus berkembang semakin maju dengan aspirasi pembebasan Nasionalnya.

Kita mengetahui bahwa berbagai operasi, tindasan militer dan, berbagai bentuk serangan lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah Turki yang mendapatkan dukungan Imperialisme, baik secara lansung maupun tidak lansung selama ini, adalah perang dan agresi yang sama seperti yang dilakukan dan dipimpin lansung oleh AS terhadap sebagian besar rakyat di Negara-negara timur tengah seperti Iraq, Suriah, Libya, Iran dan Palestine. Saat ini, setelah gagal dalam kampanyenya untuk menggulingkan Assad, AS sekarang berusaha untuk menyelamatkan posisinya dengan melakukan segalanya untuk mempertahankan kehadirannya di Suriah agar tetap dapat melakukan control atas situasi keamanan, dan berbagai kerusuhan dan provokasi yang bisa diciptakannya kembali dimasa-masa yang akan datang.

Kita juga mengetahui bagaimana situasi rakyat diseluruh dunia yang hidup di Negara-negara yang berada dibawah dominasi Imperialisme. Sebagian besar rakyat tengah menghadapi berbagai tindasan militer, perang dan agresi oleh Imperialisme, dengan dukungan penuh dan fasilitas dari pemerintah dan rezim-rezim bonekanya disleuruh dunia.

Hal ini juga sama dengan berbagai provokasi atas konflik yang menghancurkan kedaulatan rakyat diberbagai negeri di Asia, seperti Korea Utara dan Korea Selatan, maupun perang Proxy yang dilakukan atas konflik laut China Selatan dan, berbagai perang dan agresi lainnya. Imperialisme AS bersama Bonekanya di Korea Selatan juga terus menghambat dan berupaya menghancurkan aspirasi Rakyat Korea yang mendorong penyatuan kembali (Unifikasi) atas bangsanya. Akibatnya, provokasi dan perang proxy tersebut terus menciptakan berbagai penderitaan yang dialami oleh Rakyat ditempat tersebut. Demikian juga dengan pembangunan dan usaha-usaha penguatan dan perluasan pangkalan Militernya (AS) di Jepang, yang terus mengancam keamanan Rakyat Jepang.

Situasi ini juga sama halnya dengan intervensi kemanaan dan militer AS yang berhasil ditancapkan kembali di Filipina, atas nama perang melawan Narkoba dan Terorsime, Pemerintah AS telah berhasil mem-provokasi Pemerintah Filipin menerapkan kebijakan sapu-bersih di Marawai, Mindanao Filipin yang telah menghancurkan permukiman, fasilitas public bahkan membunuh dan memaksa ribuan bahkan jutaan rakyat Filipin terpaksa mengungsi dari daerah tersebut.

Pemerintah Filipin juga bahkan menerapkan kebijakan “Darurat Militer (Martial Law)” yang membawa penderitaan semakin buruk bagi Rakyat Filipin yang pada akhirnya hidup semakin tertekan dibawah terror dan intimidasi Presiden Duterte, yang Fasis membunuh ribuan aktifis, kaum tani, pemuda, perempuan dan anak-anak serta rakyat luas Filipin melalui berbagai aksi militernya dibawah kebijakan tersebut. Saat ini, Duterte bahkan menyebarkan daftar nama dan memberikan “Cap Teroris” terhadap ratusan aktivis, advokat dan pembela HAM di Filipina.

Sama halnya di Indonesia, Pemerintah Indonesia telah berhasil menerapkan secara penuh arahan dan panduan lansung system keamanan dan militer AS di Indonesia melalui panduan kemanan yang dikenal dengan “Counter Insurgency (COIN) Guidance” sejak tahun 2009 silam. Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) saat ini, bahkan telah secara agressif mengoptimalkan bahkan memformulasikan kembali berbagai kebijakan kemanan dan militerisme untuk mengcounter gerakan dan perlawanan rakyat, melakukan tindak kekerasan, kriminalisasi dan, pembunuhan terhadap rakyat, terutama terhadap kaum tani dan suku bangsa minoritas di pedesaan, dalam rangka memfasilitasi kepentingan Imperialisme untuk terus melakukan monopoli atas bahan mentah melalui perluasan perkebunan, pertambangan skala besar dan aneka projek Infrastruktur. Hal ini juga telah memperdalam penghisapan terhadap klas buruh dan rakyat luas di Indonesia.

Berdasarkan perkembangan situasi krisis imperilaisme saat ini yang telah menciptakan berbagai penderitaan terhadap rakyat dunia, Kami percaya bahwa Penderitaan Rakyat Kurdi di Afrin beserta rakyat luas Turki lainnya, adalah penderitaan kami juga. Karenanya, berdasarkan hal tersebut, maka atas nama Front Perjuangan Rakyat (FPR), Liga Perjuangan Rakyat Internasional / International League of People Struggle (ILPS) Chapter Indonesia, dan Organisasi massa Demokratis lainnya di Indonesia, Kami mengecam dengan Keras seluruh tindakan Teror berdarah dan Agresi yang dilakukan oleh pemerintah Turki terhadap Rakyat Kurdi. Kami juga menyampaikan dukungan penuh dan Solidaritas kami sebesar-besarnya atas Perjuangan Rakyat Kurdi melawan setiap bentuk serangan dan Militerisasi Pemerintah Erdogan, dan atas perjuangannya yang gagah berani untuk menentukan nasib sendiri, keadilan dan, pembebasan Nasional.

Kami juga menyerukan kepada seluruh rakyat untuk memberikan dukungan dan solidaritas untuk keadilan dan pembebasan Rakyat Kurdi, serta untuk perlindungan HAM bagi rakyat tertindas di seluruh dunia.

 

No Pasaran!

Jayalah Perjuangan Rakyat!

Jayalah Solidaritas Perjuangan Rakyat Internasional!

Maju dan Jayalah Perjuangan Pembebasan Rakyat Seluruh Dunia!

 

 

Jakarta, 21 Maret 2018

 

 

Front Perjuangan Rakyat (FPR)

 

Rudi HB. Daman

Koordinator

 

Contact Person:

Symphati Dimas: 082227526399