Warga dari 9 desa Bersama Suku Adat Kajang Hetikan Paksa Alat Berat Milik PT. Lonsum

523
BERBAGI

Bulukumba, Minggu 9/9/18. Sekitar kurang lebih 1.000 (seribu) orang dengan menggunakan 17 buah unit mobil, 400 unit motor dari 9 desa dan perwakilan dari masyarakat adat suku Kajang melakukan protes dan menghentikan paksa alat berat milik PT. Lonsum yang melakukan pembersihan lahan guna peremajaan perkebunan karetnya.

Penghentian aktifitas seperti saat ini bukanlah kali pertama sebelumnya juga sudah diakukan oleh warga. Tindakan untuk menghentikan aktifitas PT. Lonsum di latar belakangi oleh sikap PT. Lonsum yang terus memaksakan kehendak dan mengingkari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat. Termasuk sebelumnya pada hari Jum’at 7 September 2018 telah di fasilitasi oleh pihak pemerintah Kabupetan Bulukumba.

Warga dari Sembilan desa yang melakukan protes merupakan anggota dari Aliansi Gerakan Reform Agraria yang menuntut segera dilaksanakanya kesepakatan yang telah dibuat bersama yang difasilitasi oleh Kementerian Dalam Negeri pada 8 agustus 2018, sebagai salah satu upaya dalam penyelesaiakn Konflik yang berkepanjangan anatara PT. Lonsum dengan Warga dan masyarakat adat Suku Kajang. Dimana perlu ada pengukuran kembali batas kepemilikan masyarakat, tanah adat milik suku kajang, tanah adat bulukumba toa dan Hak Guna Usaha milik PT. Lonsum yang akan dilakukan oleh Tim kecil yang di bentuk oleh pihak pemerintah.

Menurut keterangan Rudy Tahas selaku ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria Cabang Bulukumba menjelaskan setelah protes yang dilakukan oleh anggota AGRA Bulukumba di lapangan pihak PT. Lonsum melalui Managernya (Erwin) sepakat untuk menghentikan aktifitas dan akan membahas permasalahan lagi pada besok hari Senin 10 Septemebr 2018 yang akan di fasilitasi oleh Bupati Bulukumba.

Rudy tahas juga menyayangkan sikap PT. Lonsum yang tetap keras kepala dan seolah-olah tidak ingin menyelesaikan konflik yang sudah berkepanjangan ini. Ia mengkhawatirkan jika PT. Lonsum tetap pada pendirianya dan pihak pemerintah tidak segera tegas untuk turun tangan maka konflik ini bisa memanas kembali dan tentu saja kita tidak ingin kekerasan kembali dialami oleh rakyat yang saat ini memperjuangkan hak tanah mereka yang telah dirampas, sebab Pihak Brimob dan aparat kepolisian terus dilapangan termasuk pada saat warga melakukan protes dan menghentikan alat berat milik PT. Lonsum.

Secara khusus Rudy mengatakan kekecewaan terhadap Pemerintahan Jokowi yang mengembar-gemborkan melaksanakan program Reforma Agraria akan tetapi tetap saja programnya tidak dapat menjamin hak atas tanah bagi rakyat, termasuk mengembalikan tanah-tanah milik rakyat yang dirampas dimasa lalu seperti yang dilakukan oleh PT. Lonsum.

Cp. Rudi Tahas 0812-4171-2218